Waduh Harga Bahan Bangunan Turut Merangkak Naik

Harga berbagai bahan bangunan harga besi baja harga besi h beam harga besi plat harga besi wf harga besi beton dalam sepekan terakhir ini mengalami kenaikan harga sekitar 25 persen. Kenaikan harga terutama yang sebagian bahan bakunya diimpor atau yang terkena dampak kenaikan harga solar untuk industri. Selain itu, kenaikan ini merupakan dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sejak pertengahan Agustus silam.

Kayu jenis Meranti, misalnya. Semula, kayu ini dijual Rp 1,2 juta per meter kubik. Kini, naik menjadi Rp 1,5 juta. Kenaikan yang cukup besar juga dialami besi yaitu 12 hingga 13 persen untuk logam batangan dengan berbagai ukuran. Dari harga awal Rp 20 ribu kini menjadi Rp 23 ribu per batangnya. Sementara untuk harga semen masih menunggu waktu. Melonjaknya harga bahan bangunan ini tentu saja semakin memberatkan masyarakat.

Para pedagang memperkirakan kenaikan harga harga besi cnp harga besi unp harga besi siku akan terus berlangsung sampai akhir tahun. Ini mengingat para produsen bahan bangunan seperti semen, besi, dan kayu masih terus menyesuaikan patokan harga dengan beban biaya operasional. Ini akibat adanya rencana pemerintah untuk menaikkan lagi harga bahan bakar minyak.

Selain bahan bangunan, harga makanan dan minuman juga mengalami kenaikan yang sangat besar yakni sekitar 15 persen. Sementara untuk produk pertanian mencapai 15 persen. Kenaikan ini lagi-lagi juga disebabkan oleh membengkaknya biaya operasional perusahaan akibat fluktuasi kurs rupiah. Komoditas yang naik terutama produk makanan dan minuman yang bahan bakunya diimpor [baca: Harga Makanan Berbahan Baku Impor Merambat Naik].

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mengatakan, kenaikan harga makanan dan minuman terpaksa dilakukan untuk mencegah kerugian akibat melonjaknya biaya produksi. Ketua GAPMMI Thomas Darmawan menjelaskan, biaya operasional membengkak karena tarif listrik dan harga BBM untuk industri juga sudah naik dalam beberapa waktu terakhir ini. “Sebagian karena BBM. Kenaikan itu menyebabkan cost off produksi meningkat,” ungkap Thomas.

Thomas menambahkan, pada awal bulan masyarakat memang memang biasanya melakukan belanja lebih banyak. Selain itu, menjelang bulan puasa dan lebaran akan terjadi penumpukan orang belanja. “Pada saat itu konsumsi akan meningkat pada kisaran 10 sampai 15 persen,” tutur dia.(BOG/Tim Liputan 6 SCTV)

BERITA KONSTRUKSI INDONESIA