Metode Dan Material Perbaikan Beton Cacat


Dalam pengecoran beton, ada kalanya di beberapa belahan beton mengalami cacat beton. Ada banyak faktor yang menyebabkannya. Pada kesempatan ini akan kami ulas perihal metode dan perbaikan cacat beton.

Penentuan metode dan material perbaikan umumnya tergantung pada jenis kerusakan yang ada, disamping besar dan luasnya kerusakan yang terjadi, lingkungan dimana struktur berada, peralatan yang tersedia, kemampuan tenaga pelaksana serta batasan-batasan dari pemilik menyerupai keterbatasan ruang kerja, fasilitas pelaksanaan, waktu pelaksanaan dan biaya perbaikan.

Di bawah ini kami sajikan jenis-jenis kerusakan beton yang biasa terjadi dalam pengecoran, antara lain :
A. Keretakan
Keretakan dibedakan retak struktur dan non-struktur. Retak struktur umumnya terjadi pada elemen struktur beton bertulang, sedang retak non-struktur terjadi dinding bata atau dinding non-beton lainnya.

Untuk retak non-struktur, sanggup digunakan metode injeksi dengan material pasta semen yang dicampur dengan expanding agent serta latex atau hanya melaksanakan sealing saja dengan material polymer mortar atau polyurethane sealant.

Sedang pada retak struktur, digunakan metode injeksi dengan material epoxy yang mempunyai viskositas yang rendah, sehingga sanggup mengisi dan sekaligus melekatkan kembali belahan beton yang terpisah. Proses injeksi sanggup dilakukan secara manual maupun dengan mesin yang bertekanan, tergantung pada lebar dan dalamnya keretakan.

B. Spalling
Metode perbaikan pada kerusakan spalling, tergantung pada besar dan dalamnya spalling yang terjadi.
Ada 4 metode spalling, yaitu :
1. Patching
Untuk spalling yang tidak terlalu dalam (kurang dari selimut beton) dan area yang tidak luas, sanggup digunakan metode patching.
Metode perbaikan ini yakni metode perbaikan manual, dengan melaksanakan penempelan mortar secara manual. Pada ketika pelaksanaan yang harus diperhatikan yakni pemfokusan pada ketika mortar ditempelkan; sehingga benar-benar didapatkan hasil yang padat.

Material yang digunakan harus mempunyai sifat gampang dikerjakan, tidak susut dan tidak jatuh sehabis terpasang (lihat maksimum ketebalan yang sanggup dipasang tiap lapis), terutama untuk pekerjaan perbaikan overhead. Umumnya yang digunakan yakni monomer mortar, polymer mortar dan epoxy mortar.

2. Grouting
Sedang pada spalling yang melebihi selimut beton, sanggup digunakan metode grouting, yaitu metode perbaikan dengan melaksanakan pengecoran menggunakan materi non-shrink mortar.

Metode ini sanggup dilakukan secara manual (gravitasi) atau menggunakan pompa.
Pada metode perbaikan ini yang perlu diperhatikan yakni bekisting yang terpasang harus benar-benar kedap, biar tidak ada kebocoran spesi yang menjadikan terjadinya keropos dan harus berpengaruh biar bisa menahan tekanan dari materi grouting.

Material yang digunakan harus mempunyai sifat mengalir dan tidak susut. Umumnya digunakan materi dasar semen atau epoxy.

3. Shotcrete (Beton Tembak)
Apabila spalling yang terjadi pada area yang sangat luas, maka sebaiknya digunakan metode Shot-crete. Pada metode ini tidak diharapkan bekisting lagi menyerupai halnya pengecoran pada umumnya.

Metode shotcrete ada dua sistim yaitu dry-mix dan wet-mix.
Pada sistem dry-mix, adonan yang dimasukkan dalam mesin berupa adonan kering, dan akan tercampur dengan air di ujung selang. Sehingga mutu dari beton yang ditembakkan sangat tergantung pada keahlian tenaga yang memegang selang, yang mengatur jumlah air. Tapi sistim ini sangat gampang dalam perawatan mesin shotcretenya, alasannya yakni tidak pernah terjadi ‘blocking’.

Pada sistem wet-mix, adonan yang dimasukkan dalam mesin berupa adonan basah, sehingga mutu beton yang ditembakkan lebih seragam. Tapi sistim ini memerlukan perawatan mesin yang tinggi, apalagi bila hingga terjadi ‘blocking’.

Pada metode shotcrete, umumnya digunakan additive untuk mempercepat pengeringan (accelerator), dengan tujuan mempercepat pengerasan dan mengurangi terjadinya banyaknya materi yang terpantul dan jatuh (rebound).

4. Grout Preplaced Aggregat (Beton Prepack)
Metode perbaikan lainnya untuk memperbaiki kerusakan berupa spalling yang cukup dalam yakni dengan metode Grout Preplaced Aggregat. Pada metode ini beton yang dihasilkan yakni dengan cara menempatkan sejumlah agregat (umumnya 40% dari volume kerusakan) kedalam bekisting, sehabis itu dilakukan pemompaan materi grout, kedalam bekisting.

Material grout yang umumnya digunakan yakni polymer grout, yang mempunyai flow cukup tinggi dan tidak susut.

Demikian sedikit ulasan perihal metode dan material perbaikan beton cacat. Terima kasih.

0 Response to "Metode Dan Material Perbaikan Beton Cacat"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel